View Sidebar

Rahimah Muslihah

Don't ever use 'h' when you call me Ima, use it when you call me Rahimah. A dreamer and book freak at the same time. Really like writing, but a bad writer. Well, who cares anyway?
Tulisan Pertama di 2017

Tulisan Pertama di 2017

Hampir sepuluh bulan saya tidak membuat tulisan di sini. Rasa kesal dan malu pun hadir pada saat yang bersamaan. Sepertinya tidak ada alasan selain rasa malas yang masih belum berhasil saya lawan. Semoga saya akan kembali menang melawan rasa malas yang rasanya semakin sering hadir.

Ada banyak hal yang ingin saya ceritakan melalui tulisan pertama di tahun 2017 ini. Sayangnya, sesuatu yang berlebihan justru membuat efek yang kurang baik. Intinya sih saya bingung mau mulai darimana. Terlalu banyak momen dalam sepuluh bulan lebih ini yang hanya saya simpan dengan harapan tidak terlupakan begitu saja. Tapi rasanya merawat ingatan dengan menulis adalah strategi paling baik, sekuat apa pun daya ingatmu. Dan di sinilah saya, mencoba menulis dengan meraba-raba momen yang terjadi beberapa bulan terakhir ini.

September 2016 lalu saya resmi menyelesaikan studi S1 di Universitas Hasanuddin, Makassar. Pada akhirnya skripsi yang baik adalah skripsi yang selesai. Ada banyak orang di belakang saya yang membuat tugas akhir ini akhirnya selesai. Tidak ada kata lain selain terima kasih yang bisa saya sampaikan kepada mereka. Pertanyaan kapan sarjana pun akhirnya bisa saya jawab, tapi pertanyaan selanjutnya adalah “Rencana berikutnya apa, Ma?”

Saya termasuk orang yang payah dalam perencanaan, apa pun bentuknya. Mulai dari perencanaan studi hingga perencanaan hidup yang paling krusial. Saya masih ingat pilihan untuk mengambil jurusan Ilmu Komunikasi justru hadir pada waktu-waktu terakhir pendaftaran SNMPTN (sekarang SBMPTN). Hal yang sama terjadi hari ini. Selesai kuliah saya masih bingung apa yang mau saya lakukan. Ya, tipikal sarjana di Indonesia pada umumnya. Selesai kuliah kemudian bingung.

Sebenarnya ada beberapa pilihan yang muncul sejak dimulainya penulisan tugas akhir, tapi hal tersebut saya kesampingkan karena fokus menyelesaikan tugas akhir. Dan inilah hasilnya, ketika tugas akhir sudah selesai, pilihan-pilihan tersebut baru saya pikirkan kembali dan masih belum ada jawaban akhirnya sampai sekarang, pilihan itu masih sangat samar-samar. Beberapa kali saya berdialog dengan Abah, Ummi, juga Preschian. Setidaknya dari dialog-dialog itu muncul pilihan yang paling dominan untuk kemudian saya pilih. Doakan ya, semoga jawaban akhir dari pertanyaan di atas hadir dan menjadi pilihan yang baik juga tepat, Amin.

Ah, menulis memang selalu membuat pikiran semakin sehat dan terawat. Rasanya seperti merapihkan satu bagian dalam sebuah lemari buku yang berdebu. Pada akhirnya saya harus mencoba untuk melawan rasa malas dalam menulis. Sampai jumpa pada tulisan (tidak penting) berikutnya!

January 11, 20170 comments