View Sidebar

Rahimah Muslihah

Don't ever use 'h' when you call me Ima, use it when you call me Rahimah. A dreamer and book freak at the same time. Really like writing, but a bad writer. Well, who cares anyway?
Review Film Lion

Review Film Lion

Suatu hari kamu pergi bersama kakak, ia lalu menyuruhmu menunggu sampai dia datang kembali untuk menjemputmu. Namun tanpa sengaja kamu justru tersesat. Apa yang akan kamu lakukan?

Mungkin hal pertama yang terlintas di pikiranmu adalah menghubunginya. Mengirimkan pesan melalui Whatsapp atau Line. Bila ia tidak merespon, kamu akan menelponnya dan bertanya dia ada di mana. Kamu memberi tahu lokasimu kemudian kalian berdua janjian di suatu tempat.

Kemungkinan kedua kamu akan membuka Google Maps atau Waze kemudian melihat bagaimana caranya kembali ke rumah. Dua aplikasi itu akan segera menampilkan rutenya lengkap dengan kendaraan umum apa yang harus kamu ambil.

Namun bagaimana jika kejadian itu terjadi di tahun 1986? Saat usiamu baru lima tahun, bahasa yang kamu tahu hanyalah bahasa daerahmu, dan kamu tersesat di daerah yang tidak mengerti bahasamu. Belum lagi perkembangan teknologi saat itu membuatmu tidak memiliki telpon genggam, apalagi aplikasi-aplikasi yang disebutkan tadi.

Itulah yang dialami oleh Saroo (Sunny Pawar) yang tersesat saat pergi bersama kakaknya, Guddu (Abhishek Bharate). Ia tidak sengaja melakukan perjalanan 1.000 mil lebih dari rumahnya di Khandwa menuju Calcutta. Saroo harus bertahan hidup sendiri di Calcutta, hingga akhirnya ia diadosi oleh pasangan Australia Sue (Nicole Kidman) dan John (David Wenham) yang nantinya kembali mengadopsi anak dari India, Mantosh (Divian Ladwa).

Dimulailah kehidupan baru Saroo di Tasmania, Australia. Di satu sisi Saroo mendapatkan hidup yang layak. Keluarga yang bahagia, rumah yang aman, serta pendidikan yang terjamin. Namun di sisi lain, tanpa disadari Saroo semakin jauh dari Saroo yang sebenarnya. Dia jauh dari Ibu, kakak, dan adiknya. Dia jauh dari rumah.

Dua puluh lima tahun kemudian Saroo (Dev Patel) tumbuh menjadi laki-laki dewasa. Ia belajar Manajemen Hotel dan jatuh hati dengan teman sekelasnya Lucy (Rooney Mara). Memori masa kecilnya pun perlahan semakin pudar.

Pada satu waktu ia berpesta di Melbourne dan melihat sepiring jalebis (sejenis camilan khas India). Hal tersebut memicu Saroo melakukan kilas balik pada masa kecilnya. Beberapa potongan memori kemudian muncul menjadi petunjuk. Saroo pun memutuskan untuk mencari keluarganya yang hilang di India. Teknologi yang berkembang saat itu menghadirkan Google Earth dan Google Maps yang membantu pencariannya.

Lion adalah film feature pertama bagi sutradara Garth Davis. Kisah Saroo sendiri merupakan kisah nyata Saroo Brieley yang ia tulis dalam sebuah buku berjudul “A Long Way Home”. Sebuah kisah sederhana di mana setiap orang memiliki kemungkinan untuk tersesat dan hilang.

Dev Patel (adult-Saroo), Sunny Pawar (young-Saroo), dan Saroo Brieley
sumber: CBC News

Film ini bukan hanya mengenai menemukan daerah atau rumah menggunakan Google Earth. Itu mungkin membantumu, namun yang terpenting adalah menemukan keluarga yang tinggal di rumah tersebut masih hidup dan setia menunggumu pulang. Penantian panjang yang diperlihatkan dalam film sudah cukup menyiksa, maka bayangkanlah penyiksaan Saroo Brieley yang harus mengalaminya langsung.

Scene di akhir film akan cukup membuatmu terharu bahkan mengeluarkan air mata. Bagaimana Saroo datang ke rumahnya di Khandwa dan menemukan rumahnya telah menjadi kandang kambing. Sampai pada saat ia hampir putus asa, datanglah seorang laki-laki yang mengajaknya pergi bertemu seorang perempuan tua. Dari jarak jauh pun Saroo sudah mengenal siapa perempuan tersebut.

Perjalanan Saroo dan penantian panjang ibunya adalah sesuatu yang sangat berarti. Merawat sebuah hubungan adalah hal penting dalam hidup ini, karena pada akhirnya setiap orang memiliki rumah dan akan merasa terhubung sejauh apa pun mereka jauh dari rumah tersebut.

sumber: IMDb

Film ini tayang perdana di Toronto International Film Festival. Setelah kehabisan tiket film Lion di Festival Sinema Australia Indonesia pada akhir Januari di Jakarta lalu, saya memutuskan untuk menontonnya online. Tapi saya berjanji kepada diri sendiri untuk kembali menontonnya di bioskop jika sudah tayang. I just can’t wait to watch this movie, that’s why I streamed it. Huhuhu.

Di Indonesia sendiri film ini masih coming soon, tapi saya yakin film ini akan tayang, apalagi setelah masuk nominasi Oscar 2017. Kasusnya sih ya seperti La La Land, setelah menang banyak di Golden Globes, baru deh banyak layar yang dibuka.

Ah, bagaimana dengan adik Saroo juga kakaknya Guddu? Jawaban atas pertanyaan ini adalah silakan menonton filmnya. Jangan lupa siapkan beberapa tissue ya!

PS: I love the young Saroo, Sunny Pawar. He’s cute enough to makes you fall in love with him.

February 9, 20170 comments