Setelah keyword UNHAS menjadi trending topic di Twitter, beberapa teman saya yang di pulau Jawa bertanya apa yang terjadi. Saya pun mencoba menjelaskan, dan lagi-lagi pertanyaan “kenapa Makassar rusuh terus” pun kembali. Saya hanya bisa membalas pertanyaan mereka dengan emoction sejuta makna. 🙂

Sekitar pukul 15.00 WITA, Selasa (18/11), beberapa orang di pintu satu Unhas melakukan aksi menolak kenaikan harga BBM. Jumlahnya tidak banyak, hanya beberapa puluh orang. Tidak ada atribut yang menandakan mereka mahasiswa Unhas. Almamater merah tidak terlihat pada badannya, pun penanda lain yang digunakan untuk identitas mereka. Berbekal toa’ mereka semua menutup wajahnya dengan scarf. Mereka menutup jalan dan tidak lama membakar ban. Ada yang aneh dengan kelompok ini.

B2vWtJxCQAEpsd8

sumber: @anak_unhas

Beberapa jam sebelum mendengar kabar adanya aksi, saya dan teman saya, Ayuni, tengah melakukan wawancara di radio CBC dengan Yudi, mahasiswa Fakultas Hukum Unhas yang merupakan bagian Humas untuk aksi tolak kenaikan BBM yang dilakukan mahasiswa Unhas.

Kami membicarakan banyak hal. Mulai dari mengapa melakukan aksi, bagaimana saat turun ke jalan, hingga tanggapannya dengan aksi yang berujung ricuh. Dari Yudi saya mengetahui bahwa setiap ada aksi yang dilakukan oleh anak Unhas, tidaklah dilakukan dengan begitu saja. Ada tahapan yang mereka lakukan sebelum turun ke jalan.

Saat isu kenaikan BBM hadir, mahasiswa dari beberapa kampus pun mulai bergerak. Mereka melakukan aksi menolak kebijakan tersebut. Banyak yang bertanya di mana anak Unhas saat itu. Mengapa mereka tidak melakukan apa pun. Mengapa diam saja. Bahkan saya sempat membaca tweet yang mengatakan anak Unhas lupa dengan perannya sebagai mahasiswa.

Anak Unhas tidak menghilang saat itu. Yudi menyampaikan bahwa teman-teman Unhas tidak ingin bertindak gegabah dengan langsung melakukan aksi. Mereka melakukan konsolidasi terlebih dahulu dengan lembaga mahasiswa lainnya di Unhas. Bersama-sama mereka merumuskan apa yang ingin disampaikan, metode aksi seperti apa yang akan dijalankan, hingga bagaimana mengantisipasi apabila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Semua harus terorganisir dengan baik.

Dua aksi (14/11 dan 16/11) telah dilakukan oleh Yudi dan teman-teman mahasiswa lainnya. Dua-duanya berlangsung aman, tidak ada kericuhan yang terjadi. Tidak ada bakar ban, tidak ada lemparan batu. Memang di aksi kedua mereka sempat menutup sebagian jalan, dan di saat tengah aksi, hujan turun. Tidak lama polisi yang mengatur jalan pergi karena “takut” basah dan teman-teman mahasiswalah yang membantu mengurai kemacetan dan membuka jalan bagi ambulance yang ingin lewat.

Selesai wawancara Yudi menyampaikan bahwa dia bersama teman-teman masih melakukan evaluasi dari kedua aksi yang sebelumnya dilakukan. Rencana untuk kembali aksi tetap ada, namun tidak di hari Jumat itu. Mahasiswa FH Unhas angkatan 2012 itu pun juga mengatakan bahwa selalu ada indentitas yang jelas dari teman-teman yang melakukan aksi. Dalam kedua aksi sebelumnya teman-teman mahasiswa memiliki tanda sebagai anak Unhas, almamater merah  di badan atau pita merah yang diikat di lengan sebagai pengganti.

Ketika disampaikan kepada Yudi ada aksi di pintu satu, ia pun mengerutkan dahi. Dan pertanyaan yang sama pun ia gumamkan, siapa mereka?