Awalnya saya ingin pulang sebelum maghrib, saat mengecek linimasa media sosial, ada info bahwa aksi menolak kenaikan BBM yang terjadi di pintu satu masih berlangsung. Hal itu pun membuat saya menunda kepulangan karena pasti akan macet, ditambah lagi saat itu memang jam pulang kantor.

Matahari semakin turun dan aksi masih berlangsung. Mereka mulai membakar ban. Jalan ditutup, Perintis padat, mobil diam di tempat dan motor berusaha mencari celah.  Tidak lama media sosial ramai dengan pemberitaan aksi di Unhas yang berujung ricuh. Saya mencoba melakukan verifikasi terhadap informasi tersebut, dan memang benar. Massa dari luar tiba-tiba melempar batu membuat sebagian yang tengah aksi pun langsung lari ke dalam.

Hingga pukul sembilan malam aksi saling lempar antar dua kubu masih berlangsung. Semakin lama massa dari luar semakin banyak. Kali ini tidak hanya batu, busur, petasan dan bahkan bom molotov menemani mereka saat mencoba menyerang ke dalam.

Mahasiswa yang tidak ikut aksi dan terkepung di dalam kampus pun perlahan maju melindungi Unhas. Berbekal batu mereka melawan. Massa yang disebut-sebut “warga” semakin panas. Pagar dirusak, sepeda Unhas, sepeda motor, bahkan pos yang berada di dekat pintu satu pun dibakar. Mahasiswa mundur hingga tugu Tri Dharma Unhas.

Saat itu saya berada di UKM Liga Film yang berada di dalam gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM). Dari dalam gedung PKM saya bisa melihat bagaimana mahasiswa mencoba bertahan. Mereka semua berdiri, berjaga-jaga di dekat tugu. Apapun mereka bawa untuk melindungi kampus merah, batu, kayu, bahkan saya sempat melihat ada yang membawa tongkat hockey.

Massa semakin masuk. Di dekat danau mereka merusak rumah kaca dengan melemparkan batu, balok, dan material keras lainnya. Berdasarkan info dari @identitasonline, masjid kampus pun sempat terkena serangan.

Pukul sebelas lewat dan bentrok masih belum selesai. Mahasiswa masih bertahan, kampus siaga satu. Tiba-tiba terlihat orang berlarian dari arah luar, massa kembali menyerang ke dalam, mahasiswa pun lari ke depan dan melemparkan batu. Untuk beberapa lama kedua kubu maju-mundur. Informasi bahwa ada mahasiswa yang terkena busur terdengar. Bentrok kembali pecah.

Saya yang melihat dari kejauhan hanya tersenyum miris. Entah semua ini karena siapa. Bahkan massa yang menyerang tidak terlihat seperti warga. Mereka begitu terorganisir, seperti ada yang memberi komando untuk menyerang. Iya, seperti ada yang mengontrol semua ini. Lucunya, selama bentrok berlangsung polisi menghilang entah kemana. Seolah-olah dengan sengaja membiarkan bentrok terjadi.

Menjelang pukul dua belas malam pasukan TNI dari Yon Armad memasuki Unhas untuk mengamankan situasi. Anggota TNI itu memaksa “warga” keluar dari kampus dan mahasiswa kembali ke dalam kampus. Setelah kampus Unhas mulai aman, pukul 00.15 WITA Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Sulselbar pun tiba. Iya. Dia tiba di saat situasi telah terkendali. 🙂

Total tiga mahasiswa dan satu warga terluka dan dilarikan ke UGD R.S Wahidin di pintu dua Unhas. Puluhan sepeda Unhas dan lima belas motor serta dua mobil hangus terbakar. Belum lagi fasilitas lain seperti gerbang, tanaman, papan nama kampus, dan rumah kaca pun ikut rusak.

pembakaran_motor_di_kampus_unhas_er_2
pembakaran_motor_di_kampus_unhas_er_4
pembakaran_motor_di_kampus_unhas_er_5
IMG_0604

IMG_0767sumber: identitasonline.net

Saya memutuskan pulang saat jam menunjukkan pukul satu dini hari. Jalanan begitu sepi. Selama perjalanan terlihat batu berserakan. Di pintu satu Unhas juga terlihat beberapa TNI berjaga, akses untuk ke dalam kampus melewati pintu satu ditutup.

Dan lihatlah. Di saat aksi berujung bentrok seperti tadi malam terjadi, pemberitaan di media pun marak. Iya kan? Tidak hanya berita online, berita tentang Unhas (dan Makassar) pun kembali memenuhi layar kaca, dan paginya kembali ramai di media cetak. Ya, seperti apa yang saya bilang sebelumnya. Silahkan tersenyum masam, namun inilah berita bagi media.

Bila ditanya apakah saya sedih dengan apa yang terjadi di kampus merah itu saya akan jawab, iya. Saya sedih dengan para provokator yang membuat ini terjadi. Siapa pun orang tersebut. Tapi jujur, saya masih percaya dengan aksi mahasiswa. Saya masih percaya bahwa mereka benar-benar melakukan perannya sebagai mahasiswa, benar-benar membela hak rakyat. Iya, saya masih percaya.

Bagi mereka yang malas melakukan verifikasi pada setiap informasi yang didapat, semoga apa yang saya tulis bisa sedikit menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Tulisan ini murni dari hasil penglihatan dan pengamatan saya serta beberapa informasi dari teman-teman yang berada di lokasi saat bentrok  berlangsung.

Saya masih berani mengatakan jangan takut dengan kota ini. Bila pemberitaan di media membuat kalian mengurungkan niat datang ke kota ini, percayalah, kalian yang rugi. Banyak tempat seru dan makanan enak loh di sini. 🙂