Beberapa hari ini Makassar ramai dengan aksi mahasiswa yang menolak kenaikan BBM. Telinga saya pun penuh dengan umpatan mereka yang merasa dirugikan karena hal tersebut. Saya jengah. Dan itu menyebalkan.

Hingga saat ini, saya tidak pernah berani mengumpat mereka yang melakukan aksi. Saya tidak pernah merasa lebih baik dari mereka. Untuk beberapa orang yang sering mengumpat mereka karena menyebabkan kemacetan, memang apa yang telah kalian lakukan selama ini?

Disaat kalian pusing dengan tugas kuliah kalian, mereka dengan suka rela memusingkan hak orang lain. Disaat kalian bingung ingin makan siang di mall mana, mereka bingung harus bertindak apa agar benar-benar didengar kaum elite yang tengah bersantai. Dan disaat kalian menggurutu karena aksi mereka membuat kalian terlambat pulang, mereka meneriakkan kepentingan orang lain yang bahkan (mungkin) orang tersebut tidak sadar tengah dibela mereka.

Bila kalian lebih sering main Let’s Get Rich daripada mencoba peduli dengan lingkungan sekitar kalian, lebih baik diam. Bila kalian masih terbiasa membenci panas matahari karena membuat kalian berkeringat dan bau, mungkin diam akan lebih baik.

Setiap orang punya cara masing-masing untuk menyampaikan aspirasinya. Mungkin kalian merasa nge-tweet dengan banyak hashtag bisa merubah kebijakan yang tidak bijak, mereka pun merasa aksi di jalan adalah hal yang sama. Gunakanlah smartphone yang kalian banggakan, karena pena, jas almamater, toa’, dan beberapa batu untuk keadaan mendesak cukup bagi mereka. Ah, mungkin dengan masker apabila penjaga para penguasa itu mulai lelah dan mengeluarkan gas air mata.

Sebenarnya apa yang mereka lakukan tidak melulu berujung dengan menutup jalan, bakar ban, atau bentrok dengan aparat. Tidak. Jumat (14/11), mahasiswa Universitas Hasanuddin melakukan aksi damai. Dengan melakukan long march, mereka menunjukkan sikap mereka menolak kenaikan BBM. Tidak ada bakar ban, tidak ada menutup jalan, tidak ada lemparan batu.

Lantas, apa kalian mengetahuinya? Kalian membacanya? Atau mungkin menontonnya sambil makan? Tentu banyak yang menjawab tidak. Ya, kalian tidak akan tahu aksi tersebut dilakukan. Aksi dengan model seperti ini tidak akan seru untuk diperlihatkan kepada kalian. Apalagi ketika berita soal guru besar yang diduga “nyabu” bersama mahasiswi muncul di hari itu. Tentu berita kedualah yang akan kalian lihat.

Bagi kalian yang melihat Makassar dan mahasiswa Makassar hanya dari kotak digital memuakkan itu, berhentilah. Saya tahu kalian lebih cerdas untuk bisa melihat apa yang sebenarnya media lakukan. Bagi media Bu Susi mungkin mulai membosankan dan syukurnya, topik favorit mereka soal kerusuhan Makassar pun telah kembali. Kebenaran bagi media adalah rating. Berita haruslah kontroversial, bila tidak, buang saja. Manusia digigit anjing itu biasa, yang luar biasa adalah ketika ada anjing yang digigit manusia.

Saya tahu kalian lebih jeli melihat agenda media. Bukankah kalian yang mendukung Jokowi mulai sadar berita di media milik lawan akan selalu menjelek-jelekkan Jokowi? Lantas, tidak bisakah kalian seperti itu terhadap kota Makassar? Sampai kapan pun media akan selalu mencitrakan Makassar kota yang kasar, kota yang penuh dengan permasalahan. Merekalah yang membangun realitas mereka sendiri soal Makassar untuk dibagikan kepada kalian.

Tapi, sungguh, kota ini tidak seberingas yang kalian lihat di layar kaca tersebut. Jika tidak percaya, datanglah kemari. Kota ini tidak kalah hangat dengan kota lain yang mungkin lebih sering dipuji kotak digital itu. Senyum pun tidak akan segan diberikan kota ini dan warganya bagi kalian. Sungguh.