Senin, 31 Desember 2018. Hari terakhir di tahun 2018.

Rasanya saya ingin menutup tahun ini dengan sebuah tulisan baru di blog. Saya selalu rindu dengan menulis. Sayangnya rindu itu selalu kalah dengan rasa malas yang ada.

Tahun 2018 menjadi salah satu tahun yang tidak akan terlupakan. Tahun dengan banyak cerita manis. Salah satunya adalah kisah cinta saya bersama dia memasuki tahap awal dalam sebuah perjalanan “kita” yaitu, menikah.

Tepat 21 April 2018 lalu, saya resmi menjadi seorang istri dari Preschian Febryantara. Laki-laki kedua yang saya cintai setelah Abah, kini menjadi laki-laki pertama yang harus saya patuhi.

Rasanya bahagia. Bahagia sekali. Namun rasa bahagia itu berdampingan dengan rasa yang lain. Ketakutan tidak bisa menjadi istri yang dia harapkan, kekhawatiran karena tidak jago memasak seperti Mamah atau Ummi, dan rasa yang lainnya. Alhamdulillah sampai hari ini, Preschian benar-benar menerima saya. Menerima Ima dengan berbagai macam kekurangannya.

Perjalanan kami masih sangat panjang. Masih banyak hal yang harus sama-sama kami perbaiki. Mencari berkah-Nya dalam setiap langkah kami utamanya. Semoga kami senantiasa berada di jalan-Nya dan berakhir pada surga-Nya. Amin ya Rabb.

Terima kasih ya Allah atas semuanya. Semoga di tahun selanjutnya kami bisa menjadi manusia yang lebih baik lagi.