Dan saya kembali merutuki diri yang tidak bisa menepati janji dengan diri sendiri. Janji untuk rajin menulis, janji untuk tidak peduli dengan alasan klise tidak-menulis-karena-tidak-mood, janji untuk memberanikan diri dengan tulisan saya yang buruk. I hate my self for some reasons.

So it’s been three months. Setelah libur semester genap yang lumayan panjang, rutinitas kuliah pun kembali menemani. Minggu ini sudah memasuki minggu ke delapan perkuliahan. Ya, delapan pertemuan lagi dan semester lima ini berakhir. Di semester lima ini saya telah mantap memilih prodi jurnalistik. Walaupun masih “abu-abu” dengan who will I be, I try.

Minggu lalu saya kembali mencoba hal baru. Saya dan beberapa teman mencoba mendaftar Program Pertukaran Pelajar dari kampus. I’m not really expecting anything, but still, I wish I’ll pass. Setelah sibuk urus berkas sana-sini, tes wawancara dan bahasa Inggris, sisanya saya serahkan sama Allah. Iya, kali ini giliran Ia yang bekerja.

Awalnya saya ragu mencoba mendaftar program ini. Rasa pesimis lebih dulu menghampiri.
“Palingan juga gagal.”
“Gak bakalan lolos, Ma.”
“Yakin mau coba? Gak mau ngaca dulu?”
Itulah beberapa kalimat payah yang saya lontarkan untuk diri sendiri. Tapi untunglah, ada suara sayup yang mendorong saya untuk mencoba, and finally, I tried it.

Jika ditanya kenapa saya mau mencoba alasannya sederhana. Biar tidak penasaran. Iya, saya tidak ingin ketika saya tidak mencoba lalu saya penasaran bagaimana kalau waktu itu saya mencoba. Setidaknya saat saya tahu bagaimana hasilnya saya juga bisa tahu bagaimana rasanya mencoba dan berusaha. Daripada duduk diam dan bertanya-bertanya, I getting off my ass and discovering how the feeling about trying something.

Saya pernah berjanji dengan diri saya sendiri, once in my life I should going to a place that I never coming before. Jauh dari rumah, jauh dari tempat yang membuat saya nyaman, jauh dari hal-hal yang telah menjadi biasa bagi saya. Being stranger in a stranger land so I could see something in a different way and hopefully make me understand what life is. I imagined this world as a book, and those who do not travel read only a page.

Sejak hari itu saya kembali merasa bahwa saya masih kurang berani. Kurang berani mencoba sesuatu yang mungkin penting buat saya. Daripada terus berpikir apa yang akan dilakukan kelak, sepertinya mencoba segala sesuatu yang bisa dilakukan saat ini adalah lebih bijak. Let’s go, Ima.