the-100-year-old-depan

  • Judul Buku: The 100-Year-Old Man Who Climbed Out of the Window and Disappeared
  • Penulis: Jonas Jonasson
  • Penerbit: Bentang Pustaka
  • Harga: Rp 59.000,-

Bayangkan bila dirimu tinggal di suatu tempat dengan rutinitas yang membosankan. Menyebalkan? Bagaimana bila ditambah dengan satu fakta bahwa kamu tengah berumur seratus tahun?

Nah. Ajukanlah pertanyaan itu kepada Allan Karlsson. Dia terlihat bosan di rumah lansia yang ia pikir menjadi tempat pemberhentian terakhirnya, dan ya dia tengah berusia seratus tahun. Jadi sepertinya, dia akan punya jawabannya.

Daripada meniup lilin angka seratus, ditonton walikota, lalu diberitakan surat kabar lokal, Allan memilih untuk melarikan diri dari pesta ulang tahunnya. Beberapa jam sebelum pesta dimulai, Allan lompat dari jendela kamarnya dan pergi.

Lompatan itu adalah awal dari perjalanan Allan. Perjalanan unik, tidak terduga yang ternyata melibatkan banyak hal dan banyak orang. Mulai dari koper berisi uang tunai, beberapa penjahat yang ternyata menyenangkan, penjual hot dog dengan banyak keahlian, hingga wanita yang memelihara gajah.

Ini bukan perjalanan pertama bagi Allan. Ada banyak kisah dari pria tua yang telah berusia seratus itu. Selain Allan (dan kamu yang membaca), tidak ada yang percaya bahwa ia pernah menyaksikan bahkan terlibat beberapa peristiwa penting yang menjadi kunci abad ke-20 nantinya. Tidak ada juga yang yakin bahwa dahulu Allan berteman dengan presiden Amerika, Stalin, Harry Truman, Mao Tse-tung, hingga adik tiri Einstein! Bahkan perjalanan melewati Himalaya dan berkali-kali hampir mati pun telah ia alami. Siapa sih sebenarnya pria tua berumur seratus tahun ini?

***

The-100-Year-Old Man Who Climbed Out of the Window and Disappeared sepertinya menjadi buku dengan judul terpanjang di rak buku saya. Judul buku ini pula yang membuat saya tertarik dan langsung membelinya, tanpa mencari ulasannya – seperti yang biasa saya lakukan sebelum membeli buku – terlebih dahulu.

Bagian awal buku sempat membuat saya ingin menutup buku, apalagi di bagian perkenalan tokoh utama, tapi syukurlah paragraf yang begitu panjang menjadi tidak masalah karena dituturkan dengan bahasa deskriptif yang tidak membosankan. Buku yang terbagi dengan Allan-kini dan Allan-dulu pun tidak membuat buku ini lantas menjadi membingungkan.

Memasuki pertengahan buku saya menjadi tidak sabar untuk membuka halaman selanjutnya dan mengetahui bagaiman kisah Allan-dulu yang lainnya. Beberapa kalimatnya pun berhasil membuat saya menyunggingkan senyum bahkan tertawa. Apalagi ketika Indonesia “dihadirkan” di buku ini (maaf untuk kejutan rasa spoiler-nya).

Rasa tidak rela bercampur penasaran pun memaksa saya untuk menghabiskan bagian akhir buku ini. Dan tawa lepas serta miris pun keluar ketika Indonesia kembali dihadirkan dan Allan menyindir halus soal “uang-agar-semua-lancar” yang terjadi di negeri ini.

Melihat Allan yang tidak suka dengan pesta ulang tahun ke-100-nya dan memutuskan kabur cukup menyinggung kita yang mungkin lebih sering bicara tentang sesuatu yang kita benci tapi tidak berani melakukan apa pun. Kesederhanaan Allan juga menyadarkan kita yang (lagi-lagi) mungkin senang sekali merumitkan hal yang sederhana. Bagi Allan, makanan dan vodka sudah cukup.

Mengutip sebuah kutipan sebelum cerita di buku ini dimulai, “Segala sesuatu berjalan seperti apa adanya, dan apa pun yang akan terjadi, pasti terjadi.”

Unik dan segar adalah kata yang tepat untuk menggambarkan bagaimana buku ini. Buat yang agak bosan dengan tema novel yang itu-itu aja, buku ini bisa menjadi alternatif bacaan. Awalnya mungkin agak membosankan, tapi percayalah, buku ini menyenangkan!

banner-the-100-yoman-resize