Tepat tanggal 22 September lalu, Ummi bertambah usia. Hari kelahirannya terulang lagi, entah untuk yang ke-berapa kalinya. Maaf bila anakmu ini terlihat tidak peduli denganmu, tapi aku tahu engkau tidak pernah melihatku seperti itu.

Dalam beberapa hal, Ummi bukan seseorang yang ingin aku contoh. Besar dengan melihat kesibukannya, aku berjanji dengan diriku di masa depan untuk tidak seperti dirinya bila aku punya anak nanti.

Gambaran seorang Ummi yang selalu ada di sampingmu begitu kabur di pikiranku. Aku curiga ini disebabkan rasa kecewaku terhadapnya karena ia melewatkan beberapa hal yang penting, menurutku. Ummi hanya mengantarku sampai depan TK di hari pertamaku, lalu ia pergi. Di hari pertama masuk SD, beliau bahkan tidak mengantarku. Aku hanya diantar kak Indra yang tidak lama juga pergi. Untuk pembagian rapot, ia bukannya tidak pernah datang, tapi aku pernah beberapa kali mengambil rapotku sendiri. Bahkan hari ulang tahunku pun sempat ia lewatkan. Tidak, aku tidak membenci dirinya untuk semua hal itu. Mungkin karena aku terlanjur tahu bahwa kesibukannya bukan untuk dirinya.

Mempuyai lima saudara cukup membuatku menyadari beberapa perbedaan yang Ummi berikan. Ditambah lagi bila kamu adalah anak perempuan yang paling besar di rumah. Ummi lebih sering melihatku sebagai si sulung. Mengerjakan banyak hal, memberi kesempatan pada adik untuk berbagai kesenangan, bahkan menjadi seorang kakak untuk kakak-ku sendiri.

Butuh waktu cukup lama bagiku untuk menyadari bagaimana Ummi membesarkanku. Bila sosok Ayah membersarkanmu dengan ketegasan, maka bagiku Ummilah sosok itu. Meskipun Abah juga seperti itu, aku rasa Ummi yang lebih dominan untukku. Aku justru lebih sering bermanja-manja dengan Abah, well I’m proud to call myself, daddy’s little girl.

Sepertinya Ummi memang membiasakanku untuk menjadi anak perempuan yang kuat dan mandiri sejak aku kecil. Masih teringat bagaimana sepulang sekolah aku harus menjaga Ari, karena Ummi masih bekerja. Atau bagaimana diriku sering pergi sendirian, bahkan dengan jarak yang cukup jauh untuk ukuran anak SD.

Ummi jarang membiarkanku bermanja-manja, itulah mengapa hingga kini aku pun segan melakukannya. Bila ada sesuatu yang aku inginkan, Ummi tidak pernah langsung memberikannya. Dulu, aku butuh usaha keras untuk meyakinkan Ummi bahwa aku pantas mendapatkan meja belajar. Dan untuk berbagai hal lainnya, Ummi sering menomor-sekiankanku.

Dulu aku begitu marah dengan bagaimana Ummi bersikap kepadaku. Namun saat ini, rasanya aku cukup dewasa untuk bisa mengerti alasan dibalik itu semua. Seperti bagaimana ia tidak pernah memujiku secara langsung. Ya, begitulah caranya untuk membuatku tidak cepat berpuas diri dengan segala pencapaian.

Di hari ulang tahunnya aku mengirimkan pesan singkat. Terselip ucapan terima kasih atas apa yang telah ia lakukan selama ini untukku, untuk anak-anaknya, serta doa yang semoga Allah kabulkan. Ia membalasnya dengan begitu dingin, “Thank you, Nak.” Namun selang beberapa menit pesannya kembali masuk, “Hingga hari ini Ummi tetap selalu bangga kepada Ima dan akan begitu selamanya.” Aku hanya bisa tersenyum dan menahan air mataku saat membacanya.

Aku merasa begitu sulit mengucapkan maaf kepadanya. Bahkan ungkapan rasa sayang dan terima kasih yang sangat pantas ia dapatkan, jarang aku sampaikan. Iya, aku memang begitu egois kepadanya. Mengutip satu kalimat dari sebuah buku, aku telah berbuat seperti orang yang tidak menyadari bertapa pentingnya matahari, hanya karena matahari bersinar setiap hari.

Sekali lagi, selamat ulang tahun Ummi. Aku berdoa kepada Allah untuk selalu menjaga dan melindungimu, agar aku bisa memenuhi kewajibanku terhadap Ummi dan Abah dengan sebaik-baiknya, dan agar membuat Kalian berdua benar-benar bahagia. Ima sayang Ummi. Selalu sayang Ummi.