Saya lupa bagaimana tepatnya buku bersampul biru ini jatuh ke tangan saya. Saya hanya ingat seseorang yang berbaik hati meminjamkan buku tersebut adalah Kak Ams. Seorang kakak di Kosmik yang lebih muda sebulan dari saya. Halo adik Ams! Hahaha.

Beberapa bulan belakangan kegiatan membaca saya menurun drastis. Jika dalam satu bulan minimal dua buku bisa saya selesaikan, maka kini butuh waktu berbulan-bulan untuk menyelesaikan satu buku. Hal ini disebabkan saya membaca buku yang tidak terlalu menarik, namun merasa tanggung untuk tidak menyelesaikan dan sayang bila membaca buku yang baru. Sebenarnya ini hal yang tidak baik, karena jika dibiarkan kamu hanya akan membuang waktu pada satu buku yang sebenarnya pun tidak begitu kamu suka.

Saya tidak punya ekspektasi apa pun saat membaca buku ini. Kak Ams hanya bilang buku ini bagus dan saya harus baca. Jika ada komentar yang harus saya dengar mengenai film, buku, dan musik, maka Kak Ams adalah salah satunya.

Wonder bercerita mengenai August Pullman. Seorang anak laki-laki berusia sepuluh tahun yang tidak biasa. August bermain seperti anak seusianya. Dia bermain bola, mengumpulkan permen di trick or treat saat Halloween, memiliki XBox, dan hal biasa lainnya. Namun August tahu, membuat anak-anak lari ketika melihatnya adalah alasan ia anak yang tidak biasa.

I won’t describe what I look like. Whatever you’re thinking, it’s probably worse.

August memiliki Ayah, Ibu, dan Via yang melihatnya sebagai anak laki-laki biasa. Mereka tidak akan lari bila melihat August, tidak berbisik-bisik seperti yang orang lain biasa lakukan.

Via adalah seorang kakak perempuan yang protektif jika ada orang yang bersikap kasar dengan August. Ayah dan Ibu sangat perhatian dan sayang dengannya. Serta beberapa teman yang lama ia kenal. Semua dirasa cukup bagi August, tapi tidak dengan kedua orang tuanya. Ibunya berharap August bisa sekolah di sekolah umum, bukan homeschooling yang selama ini dilakukannya. Walaupun Ayah berkata August tidak perlu melakukan hal yang tidak ingin dilakukan, August tahu Ayah pun berharap hal yang sama.

Menjadi anak baru di sekolah terkadang sudah cukup menyulitkan. Jadi bayangkanlah jika kamu anak baru dengan kelainan Mandibulofacial Dysostosis yang telah menjalani 27 operasi. August tahu semua anak di sekolah akan memandanginya. Ia bahkan tidak yakin ada yang ingin sekadar mengobrol dengannya, apalagi berteman.

Setelah berbagai perdebatan, teriakan, dan tangisan August, dimulailah kehidupan baru di Breecher Prep. Di sana August bertemu kepala sekolah Mr. Tushman, teman sekelas Jack dan Charlotte.

Tidak hanya mengambil sudut pandangg August, buku ini menyelipkan beberapa bagian yang diambil dari sudut pandang Via hingga teman-teman August pun Via. Hal tersebut yang akan membuat buku ini menjadi jauh lebih berwarna dan tidak membosankan.

Wonder memberikan kita banyak pelajaran tanpa merasa digurui. Kalimat-kalimat sederhana layaknya anak sepuluh tahun pada umumnya begitu mengalir di buku ini. Tanpa sadar kamu akan menyimpulkan senyum di ujung bibirmu, tertawa, hingga terharu. Saya bahkan sempat menyeka (sedikit) air mata pada beberapa bagian.

Buku ini relevan untuk segala usia. Ya, walaupun kamu sudah berumur kepala dua atau bahkan sudah memiliki anak. Begitu banyak hal yang bisa kamu ambil di buku ini. Cinta dan kasih sayang yang tulus dari keluarga, persahabatan yang tidak peduli dengan bagaimana fisikmu namun bagaimana “dirimu”, serta peringatan betapa pentingnya menjadi dirimu sendiri. Ah, juga pesan untuk menjadi pribadi yang pandai bersyukur. Bagaimana caranya? Berbuat baiklah dengan siapa pun. Siapa pun.

“…But hey, if they want to give me a medal for being me, that’s okay. I’ll take it. I didn’t destroy a Death Star or anything like that, but I did just get through the fifth grade. And that’s not easy, even if you’re not me.

sumber: thinglink